“Data sementara memang 74 desa yang dilanda kekeringan dan rawan pangan, namun bukan mustahil data itu bisa bertambah, mengingat banyak desa yang hingga kini masih terus dilakukan pendataan oleh tim kabupaten. Beras bantuan cadangan dari Bulog telah kami salurkan, namun hanya bisa bertahan tak lebih dari sebulan,” urai Bupati Sumba Timur Gidion Mbilidjora, Kamis (15/9/2011).
Gidion menambahkan, bantuan pemerintah pusat sangat diperlukan karena ketersediaan dana APBD di pos tak terduga juga terbatas, tidak sampai Rp1 miliar.
Menurut data terakhir dari Badan Bimas dan Ketahanan Pangan, sebanyak 74 dari 140-an desa yang tersebar pada 22 kecamatan di Sumba Timur kondisi rawan pangan
Rawan pangan menimbulkan beban berat bagi masyarakat. Warga di selatan Kabupaten Sumba Timur misalnya harus mengonsumsi ubi hutan yang beracun atau biasa disebut Iwi.
Mereka harus benar-benar memilih bagian yang tidak beracun dan membersihkannya agar aman dikonsumsi. Proses pengolahan membutuhkan waktu hingga berhari-hari.
Lain lagi dengan warga di Wairinding, Desa Pambotanjara, Kecamatan Kota Waingapu. Mereka masuk ke rawa yang mengering untuk mencari sisa-sia ikan yang terperangkap akibat kehabisan air.(ton)
Sumber: ns1.kompas.web.id

Tidak ada komentar:
Posting Komentar